Genigunungpati’s Blog

Hanya sebuah Blog dari Cah gunungPati

Bayangkan Wajah BUNDA…..

Ketika wajah Tuhan tidak lagi di takuti

Bayangkanlah wajah bunda

Pembaca, sedianya tulisan ini menjadi satu dengan tulisan yang sedang saya bikin juga..saya teringat akan banyaknya dosa dan kesalahan yang saya buat, yang saya “persembahkan” untuk ibu saya. Saya memberikan hanya tangisan dan tangisan untuknya. Jarang pernah memberikan kebanggaan dan senyuman.

Sekarang saya sedang berusaha untuk menebus,berusaha membayar kesalahan-kesalahan saya,tapi rasanya apa yang saya lakukan masih jauh dari cukup.walaupun sepanjang waktu saya sediakan untuknya.

Berikut beberapa tulisan yang saya kutip dari buku “KUN FAYAKUUN selalu ada harapan di tengah kesulitan” karangan ust.Yusuf Mansur…

“ aku mau membuat mamaku bangga.” Ungkapan polos ini diungkapkan oleh isol (11 tahun),anak autis. Sepanjang sepengetahuan Luqman, anak yang menderita autis adalah anak yang secara mental agak terhambat.pertumbuhan indera dan gerakannya lambat.dibawah normal.

Isol diberitahu bahwa dia bisa menjadi presiden.ia menggeleng.isol juga diberitahu, bahwa isol masih bisa jadi dokter. Lagi-lagi ia menggeleng. Ia hanya kepingin bisa memakai celana jeans sendiri, dan mengikat tali sepatunya tanpa bantuan mamanya, agar mamanya itu bangga. Luar biasa!!

Di ceritakan oleh Lisa ( 27 tahun),guru Isol sendiri. Isol sekolah di SLB Mahakarya, Tangerang, dimana lisa mengajar disana. Dan kebetulan Lisa sedang memiliki ‘masalah’ dengan bundanya. Lisa menangis. Betapa Isol masih mau membuat mamanya bangga.” Sedangkan saya…” begitu ceritanya kepada maemunah,istri luqman. ”Saya menikah tanpa memberitahu mamah…”

Lisa mengaku menyesal. Ia mengaku cinta betul sama Robert (28), mantan teman SMU-nya yang kini menjadi suaminya. Dengan alas an beda agama, orang tuanya menentang keras. Pertengkaran hebat tak terelakan. Saat itu Lisa lebih memilih Robert, ketimbang orang tuanya.

Perasaan bersalah hingga kini masih menghantui Lisa. Dan perasaan bersalah ini semakin menjadi-jadi ketika dia memiliki anak. Ia menyadari betapa kasihnya orang tuanya, terutama bundanya kepada dia. Lisa membayangkan, bahwa pastilah sama kasih saying bundanya terhadap dia,dengan kasih sayangnya dia terhadap anaknya.

Perasaan bersalah kini semakin terusik dengan ungkapan polos Isol, muridnya yang menderita cacat mental. Ungkapan Isol, bahwa dia ingin bisa mengikat tali sepatunya sendiri atau kepengen memakai celana sendiri agar mamanya bangga, betul – betul mengingatkan dirinya bahwa tentu kecewa sekali bundanya dengan sikap keras yang diambilnya….

Tulisan kecil ini tidak dimaksudkan untuk ajang penilaian siapa yang bersalah dan siapa yang tidak,khususnya pada kasus Lisa. Tulisan ini juga bukan jawaban konsultasi psikologi bagi penderitaan yang diderita Lisa, dan mungkin juga kesedihan bundanya Lisa yang tidak dipotret disini. Tulisan ini mungkin sama dengan kehendak Lisa dan Isol yang luhur hendak memberikan garis tebal, kenapa kita juga tidak memulai upaya untuk memberikan garis tebal, kenapa kita juga tidak memulai upaya untuk memberikan kebanggan terhadap orang tua kita, khususnya ibu kita..

Kasih sayang bagaikan mata air, ia memberikan kehidupan. Kasih sayang bisa pula diibaratkan dengan matahari, yang menyinari kehidupan. Tanpa kasih sayang antara anak dengan ibu, ibu dengan anak – keluarga maka membatinlah kita.

Kita tengok sebentar sejarah kehidupan yang sudah kita lalui, adakah perilaku kita lebih banyak membuat ibu kita menangis, atau bersedih? Adakah perbuatan kita, sikap kita, tidak menyenangkan ibu dan ayah? Kalau ada, dan selagi mereka hidup, mintalah segera maaf mereka. Mereka adalah bagian yang tidak bisa terpisahkan dalam kehidupan kita sebagai manusia. Apalagi kita semua pernah menjadi anak, pernah menjadi bayi, dan semua di besarkan serta di lahirkan dari rahim seorang ibu.

Mulailah menorehkan kebanggaan di wajah ibu kita lantaran memiliki kita sebagai anaknya. Mulailah menorehkan senyuman di bibir tua ibu kita lantaran diberi-Nya anak seperti kita. Ambil pelan pundaknya untuk kita sentuh, kita pijit dengan pijitan yang hangat sambil bicara dari hati ke hati dengannya. Ambil pelan kakinya untuk kita sentuh, kita pijit dengan kasih sayang, sambil bercerita tentang cucunya yang lucu.

Sungguh, hanya karena kalimat yang tak terungkap saja, orang tua khususnya ibu tidak mengungkapkan kerinduannya kepada kita. Beliau – beliau tentu sangat rindu mendekap kita, bercengkerama dengan kita, membelai kita. Mata mereka sering terpejam, menerawang masa – masa indah ketika kita masih dalam timangan, masih dalam dekapan.

Ah,kepingin menangis rasanya mata ini. Bawa cucunya ‘anak kita’ untuk bermain bersamanya. Mereka akan mencium, mendekap, mengayun, dengan perasaan yang sama belasan tahun yang lalu, mungkin juga puluhan tahun yang lalu, ketika mereka mencurahkan kasih sayangnya untuk kita.

Buatlah ibu dan ayah kita bahagia. Cari apa yang bisa membuat mereka tersenyum indah. Hantarlah masa tua mereka dengan sisa sejarah yang menyenangkan.

Ketika wajah Tuhan tidak lagi ditakuti

Bayangkan saja wajah bunda.

Benar,andaikan wajah Tuhan tidak bisa lagi kita takuti, lantaran mungkin kita tidak mengenal-Nya, mungkin dengan sedikit membayangkan kepedihan dan kesedihan wajah ibu kita, ada sedikit rem bagi langkah – langkah salah. Benar masa tega ibu susah terus, masa tega ibu jadi ikut-ikutan menderita karena kelakuan kita yang gak bener?

Entah karena sedang sensitive atau sedang terbawa perasaan, kontan air mata saya berlinang.

Cukup efektif. ini saya rasakan. Secara berkelakar saya suka bilang, kita tidak bisa melihat wajah Tuhan, tapi kita bisa melihat wajah Ibu. Minimal membayangkannya. Dan ketika kita membayangkan wajah ibu, ia akan benar-benar mengerem kita.

Entahlah kejadian-kejadian di masa kemudian. ternyata saya masih tertatih-tatih menggapai pertaubatan yang sempurna. tidak gampang memang, perlu perjuangan. Tapi saya tidak menyerah. Dan Insya Allah tidak menyerah. Saya akan berjuang dan berjuang terus untuk memperbaiki diri, hingga ajal menjelang. memang ada satu dua kesalahan baru yang terjejak, tapi mudah-mudahan Allah akan mengampuni dan menganggapnya sebagai sebuah perjalanan yang belum usai.

kembali kepada wajah Ibu. Insya Allah, kehidupan kita akan tenang, akan senang, bila kita akan menghargai ibu kita. bukankah salah satu bentuknya adalah dengan menjaga kelakuan kita dan memberikannya senyuman? Sekarang bayangkan ‘senyuman’ Tuhan, manakala kita membuat ibu kita tersenyum. Bayangkan lagi ‘sedihnya’ Tuhan, manakala kita buat ibu kita sedih. Dan bayangkan juga ‘marahnya’ Tuhan, manakala ibu kita marah.

masa kita kalah sama Isol, anak yang diceritakan di atas. Isol dikisahkan ditanya (sekaligus dijawab sendiri oleh yang nanya), bahwa ia masih bisa menjadi presiden. Dia menggeleng kepala. Diberitahu lagi, kalau tidak mau menjadi presiden jadi dokter? Lagi-laghi Isol menggelengkan kepala. Lalu apa kata Isol, ia hanya ingin memakai celana jeans sendiri, dan mengikat tali sepatunya tanpa bantuan mamanya, agar mamanya itu bangga.

Bagaimana? tidak malu sama Isol? kalau Isol yang cacat mental saja punya niatan yang luhur untuk membahagiakan mamanya dan membuat mamanya bangga punya anak dia, masa kita yang sehat, normal dan segar bugar malah mempersembahkan kekecewaan dan kesedihan buat bunda?

Senyumnya bunda, senyumnya Tuhan. Kecewanya bunda, kecewanya Tuhan. Sedihnya bunda, sedihnya Tuhan. Marahnya bunda, marahnya Tuhan. Seorang bunda adalah representative Tuhan di muka bumi ini.

@@@@

Apa yang harus hamba lakukan agar ibu hamba, ayah hamba, bangga terhadap hamba? Rasanya bukan kemewahan yang menyebabkan mereka bangga. Apalagi bila kemewahan dan kekayaan kita hanya membuat kita menjauh dari kehidupannya. Bukan, bukan itu. Yang membuat ibu dan ayah bangga pastilah kalau kita menjadi anak yang baik buat mereka, yang siap menemani mereka dan tidak mengasingkan mereka. Yang membuat ibu dan ayah bangga, adalah ketika ia bisa membanggakan bahwa anaknya adalah anak – anak yang baik, yang berbakti kepada mereka. Dan mereka pasti lebih bangga lagi, manakala mereka mendapatkan kita begitu sayang, peduli dan perhatian kepada mereka.

Ya Allah, jadikanlah hamba kebanggaan buat ibu dan ayah hamba….

makk

Iklan

Desember 22, 2008 - Posted by | Uncategorized

6 Komentar »

  1. salam kenal balik ya.artikel yang menarik bisa jadi refleksi diri deh..makasih ya…

    Komentar oleh nano | Desember 23, 2008

  2. salam kenal..
    goood artikel

    Komentar oleh uki21 | Desember 24, 2008

  3. Berusaha menata kembali seperti yang dikatakan pd patagraf ‘Mulailah dst…
    “Senyumnya bunda, senyumnya Tuhan. Kecewanya bunda, kecewanya Tuhan. Sedihnya bunda, sedihnya Tuhan. Marahnya bunda, marahnya Tuhan. Seorang bunda adalah representative Tuhan di muka bumi ini” Dapat direnungkan untuk akhirnya di implementasikan pada keseharian kita….

    Komentar oleh Rita | Desember 24, 2008

  4. Jadi terharu, terlalu banyak dosa yang aku buat pada nyokap,
    Semoga aku pun bisa membahagiakan Ibu seperti yang diungkapkan oleh Isol….

    Komentar oleh potter | Desember 24, 2008

  5. Surga ada ditelapak kaki ibu.
    Kita sebagai anak harus berbakti kepadanya.
    Kalau bisa, nanti saat kita mati berada dikaki ibu.
    Eh… Aku cuma bercanda lho !
    Intinya, sesama manusia harus saling mengasihi terutama kepada ibu kita.

    Komentar oleh hamaxs007 | Desember 24, 2008

  6. nice post…
    aQ berusaha keras membayangkan wajah ibu ..hehe..soalnya sepanjang hr ini, mama! marah2 mlulu…hehhe…
    tp biar gmn jg, I love My mom, so much..
    makasih y udah mampir ke blogQ
    salam kenal 🙂

    Komentar oleh sarahtidaksendiri | Desember 25, 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: